PALEMBANG – Mulai 2011 mendatang, Universitas Terbuka (UT) mulai menjaring calon mahasiswa baru usia 19-23 tahun sehingga meningkatkan angka partisipasi kasar sesuai dengan program Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas).

Ini dikemukakan Pembantu Rektor III UT Hasmonel Ali Hanafiah saat menghadiri penyerahan ijazah dan pelepasan alumni Program Pendidikan Dasar dan Non Pendidikan Dasar Unit Program Belajar Jarak Jauh (UPBJJ) UT Palembang sebanyak 2.538 lulusan di Aula Asrama Haji Palembang, Selasa (23/2).

Diakui, selama ini mahasiswa UT umumnya didominasi usia 35 tahun ke atas. Mereka yang belajar umumnya sudah bekerja dan mengikuti tugas-tugas belajar jarak jauh.
Universitas Terbuka memberikan peluang dan kesempatan bagi masyarakat mengikuti program pendidikan tinggi dengan mengembangkan kemampuan belajar sendiri,” katanya.

Kedepan, lanjut Hasmonel Alihanafiah, UT diamanahi Dirjen Dikti Depdiknas untuk menerima mahasiswa lulusan SMA sebagai upaya pemerintah meningkatkan angka partisipasi kasar usia 19-23. Artinya, usia 19 tahun mereka mulai kuliah dan lulus diusia 23 tahun. Untuk itu, UPBJJ UT Palembang bekerja sama dengan enam pergurian tinggi di Palembang, dua diantaranya Unsri dan Polri dan empat perguruan swasta yang akan menjadi penitipan mahasiswa UT untuk bertatap muka. “Jadwal tatap muka mahasiswa UT hanya delapan kali, selebihnya  mahasiswa melakukan pengembangan diri. Untuk perguruan swasta kita seleksi dan mereka harus memiliki keseriusan,” katanya,

Untuk program pendidikan yang ditawarkan, antara lain program fakultas ekonomi, fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Fakultas Mipa dan program pendidikan dasar (PGSD). Tidak sebatas itu, UT juga segera membuka program pendidikan strakta dua (S2) ilmu Administrasi publik dan ekonomi. Lantas, bagaimana dengan biaya kuliahnya? Menurut Hasmonel, proses pendidikan di UT tidak begitu. Setiap satu SKS Rp 20 ribu serta biaya lain-lain. “Selama ini konsep pendidikan tatap muka mengandalkan komunikasi lisan sehingga siswa dan mahasiswa tidak mandiri. Kalau tidak ada dosen, mahasiswa pulang. UT mengajarkan anak-anak mandiri dan mengembangkan dirinya sendiri,” katanya.

Program pendidikan non tatap muka (UT) yang dikembangkan di Indonesia, ternyata dari sisi jumlah peminat masuk lima besar dunia. Dimana India menempati posisi teratas, disusul Cina, Kanada dan Amerika Serikat. sripo
..:sumber:..